Archive for August, 2006

illegal lawyer vs legal liar

Wednesday, August 30th, 2006

Apa yang terjadi kalau sekumpulang pengacara ato kerennya lawyer, dikumpulkan dalam sebuah pertemuan? 

Pertama, sulit untuk membuat setiap session selesai tepat waktu. Molor sekitar 1 sampe 2 jam itu kenyataan yang harus diterima dengan lapang dada. Bukan karena para pengacara itu gak pernah on time memulai pertemuan (mereka malah seringkali lebih ontime daripada pesawat terbang ;p) tapi lebih karena kemampuan dan daya tahan berbicara mereka yang di atas rata-rata sehingga waktu 1 jam serasa cuman 10 menit. Padahal kalo mo dibikin simple, cepet dan to the point sih bisa, tapi gengsi dunk! kesannya jadi kurang pengetahuan, hehehe… 

Kedua, energi mereka untuk bicara masalah hukum sangat tinggi dan tentunya selalu butuh penyaluran. Nah, kalau waktu yang diberikan selama session belum cukup, pembicaraan dilanjutkan waktu makan pagi, tea/coffee break, makan siang, makan malam, di dalam mobil, ketemu di lobby hotel-lorong kamar-lift- bahkan di toilet. Padahal yang diomongin juga gak selalu hal2 baru, tapi suka aja di ulang2 dan ngasih penegasan berkali2.  Hampir gak ada waktu yang terbuang percuma, setiap waktu luang dipake untuk diskusi masalah hukum dan lobby2. Gubrak!!

Ketiga, mereka terbiasa mengamati segala seuatu (pengacara yang baik katanya selalu memperhatikan sesuatu sampai detail, huaaa… bukan gw banget!!). Sialnya, mereka gak cuman berhenti di "memperhatikan", karena abis itu selalu dilanjutin dengan komentar macam2. Nah, kalo ditanggepin, ceritanya akan jadi semakin panjang dan dalam taraf yang cukup parah bisa mengurangi nafsu makan (hmm, tapi bagus juga kan buat yang emang mo diet, hihi..).

Kondisi kayak gini, jelas bikin orang2 seperti gw (yang cuman ngaku2 pengacara hanya karena pernah kuliah di fak. hukum) seperti berada lagi di sidang skripsi (loh, apa hubungannya?). Untungnya, dari 35 peserta, gak semuanya ‘lawyer minded". Di hari ke-3 gw berhasil menemukan teman2 senasib dari nepal, india, pilipina dan sri lanka yang akhirnya sepakat membuat illegal lawyer club. Illegal lawyer adalah sekumpulan pengacara yang lebih suka melakukan hal-hal yang illegal (di luar masalah legal/hukum). Misalnya, belanja oleh2 di pasar yang murah meriah, keliling kota naik rickshaw, naik perahu di sungai, nonton demo dan mogok nasional sambil ngeledekin polisi yang untungnya gak ngerti bahasa inggris, dan bersenang-senang di taman hiburan. Bisa dibilang klub ini adalah wadah untuk sekumpulan lawyer yang mencoba untuk tetap waras di tengah2 situasi yang gak waras.

Seorang teman dari india, memberi julukan "the legal liar club" untuk para lawyer yang selalu bicara masalah legal. Well, bukan berarti mereka adalah tukang boong, tapi emang seringkali yang dibicarain cuman omong kosong, hehehe…

(sorry neh buat yang berprofesi pengacara … tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman gw mengikuti pertemuan regional para pengacara HAM se-asia di Dhaka, Bangladesh … persamaan atau perbedaan pengalaman yang anda temukan dalam cerita ini sepenuhnya bukan kesalah gw, hahaha…

Dhaka, 31 Agustus 2006

kevin … lahir untuk bertanya ;p

Wednesday, August 23rd, 2006

Data diri :

Nama : Kevin

Jenis kelamin : walau orang sering keliru, tapi sebenarnya Kevin adalah laki-laki

Umur : hampir 6 tahun

Pekerjaan : bertanya

Hobby : bikin orang yang ditanya bingung

Perkenalkan, Kevin, keponakan gw tersayang yang tujuan hidupnya adalah bertanya, bertanya, dan bertanya. Sejak kecil dia selalu mengamati segala sesuatu di sekelilingnya dan bertanya, ‘apa itu?". Masalah mulai muncul ketika Kevin mulai lancar bicara, dia gak puas hanya dengan bertanya apa itu, dia akan bertanya, "kenapa?".  Dan masalah terbesar, Kevin adalah anak yang gak selalu bisa dipuaskan dengan 1 jawaban (kadang2 aja berhasil kalo gw lagi beruntung, hehe..). Dia hampir selalu punya pertanyaan untuk setiap jawaban. 

Kevin senang mengamati dan bertanya apa saja pada siapa saja. Sejak mulai masuk TK setahun lalu, guru-gurunya di sekolah sampai kewalahan karena tiap hari jadi sasaran pertanyaan2 Kevin. Gurunya bahkan pernah mengeluh karena Kevin selalu mempertanyakan semua tugas yang diberikan (kenapa harus gambar rumah? kenapa gambarnya musti diwarnain? kenapa musti bikin huruf A? kenapa ini dibilang angka 3? kenapa harus cium tangan ibu guru? … ). Tahun ini Kevin mulai masuk kelas 1 SD, dan pada hari pertama masuk sekolah, mamanya harus ‘berperang’ dengan Kevin yang mempertanyakan, kenapa dia harus pakai baju putih-merah dan bukan baju seragam TK-nya! Besoknya Kevin kembali bertanya  kenapa sekolahnya gak sama dan kenapa guru2nya beda! hahaha….

Pertanyaan Kevin seringkali susah untuk dijawab (sebenarnya kesulitan terletak pada cara menerangkannya dengan bahasa yang mudah dipahami anak seusia Kevin). Walaupun gw cukup sabar (menurut pendapat pribadi gw) menghadapi pertanyaan2 Kevin, seringkali karena bingung dan gak tau harus jawab apa, gw jadi terjebak kasih jawaban-jawaban ‘bego’. Dan sialnya, sering banget gw jadi bingung dengan pertanyaan2 Kevin.

Contohnya nih :

situasi : supaya Kevin gak ‘ngerecokin’ gw bikin laporan tugas, biasanya dia gw kasih kerjaan lain, misalnya mewarnai gambar, tapi tetep aja dia nempel di samping gw dan ‘menembakkan’ berbagai pertanyaan saat gw lagi gak konsentrasi buat jawab.

"tante, kenapa air laut warnanya biru?"

"karena air laut pantulin warna langit. Langit kan warnanya biru."

"kenapa langit warnanya biru?"

"karena waktu Tuhan mau warnain langit, cuma ada crayon biru yang sisa" (stupid answer deh!)

"kenapa cuma ada crayon biru? kevin punya crayon banyak nih. Bisa gak minta Tuhan warnain langit jadi hijau aja?"

" sudah terlanjur, sayang. Waktu itu Tuhan pake crayon yang gak bisa diapus warnanya. tapi Kevin boleh kok warnain langit jadi hijau di gambar Kevin"

(well, pertanyaan kevin masih terus berlanjut sampai gw nyerah dan terpaksa beliin es krim supaya dia berhenti bertanya … not a good idea sih karena cuma bertahan beberapa menit aja, huhuhu…)

situasi : kevin suka sama binatang … dia pernah berkeras untuk namain semut-semut di rumahnya, trus dia bingung membedakannya karena semua semut bentuknya sama) … tapi dari semua binatang, dia paling sayang sama anjing.

‘tante, ayam kan binatang, raymon juga binatang, tapi kenapa ayam kakinya dua, kok raymon kakinya empat?"

"karena raymon kan anjing, badannya lebih besar, jadi dia butuh kaki lebih banyak supaya bisa jalan" (huaaaa… jangan sampai dia liat ulat bulu ..)

situasi : Kevin suka main air dan entah kenapa dia paling suka ‘membantu’ cuci piring.

‘tante, kenapa ini (sambil satu tanganya mengangkat piring dari baskom air)  dinamain piring,  yang ini (sambil satu tanganya mengangkat gelas) dinamain gelas?"

"karena piring untuk makan,  gelas untuk minum" (not a smart answer, i know it)

"ya, tapi kenapa namanya piring, kenapa namanya gelas?"

"lah, emang Kevin maunya piring dinamain apa?"

"mmm… (diam sebentar sambil memainkan tangannya di air, tiba-tiba kevin tersenyum lebar seolah menemukan jawaban penting) … " dinamain gelas aja, trus gelasnya dinamain piring." huaa…gubrak!!

‘boleh juga sih, si piring juga udah bosen kali dinamain piring terus" (aduh, garing! tapi mo gimana lagi donk?!)

situasi : Kevin selalu senang sekolah, tapi dia sering gak sependapat sama guru2nya.

"tante, ibu guru bilang kevin harus jadi anak baik supaya masuk surga. emangnya kenapa sih kevin harus masuk surga?"

"yah, gak harus sih kalo kevin gak mau. emangnya kevin mau masuk ke mana?"

"ke ancol aja, kevin mau liat lumba-lumba lagi!

huaaaa..hahaha… ya ampyun KEVIN !!

(tanggal 22 september Kevin ultah ke 6 dan dari bulan juni dia udah rajin mengingatkan semua orang dan udah request kado pula! hahaha…)

Panggilan Tuhan … (biara putih di kaki bukit)

Tuesday, August 15th, 2006

Ketika cinta harus memilih,
ku putuskan untuk menyerahkan hatiku sepenuhnya
pada Sang Cinta.
 

kala kudengar panggilan Tuhan
ku persembahkan seluruh hidupku
lalu kuarungi samudera luas
berpegang pada kasih setia-Nya

satu per satu waktu berlalu
silih berganti hari berlari
ombak dan badai datang menerjang
menghempas bahtera karya doaku
angin dan taufan riuh menghujam
mengoyak tipisnya layar asaku

saat-saat ku putus asa
Tuhan datang menghiburku
jika tanpa campur tangan-Nya
tiada berguna

di dalam gelap, Tuhan terangku
di dalam terang kubagi kasihku
patut kusyukuri niat suci ini
karya kasih Tuhan, panggilan mulia

puji syukur kan kulambungkan
bagi Tuhan, Gembalaku
semoga kekal serta abadi
panggilannku


(untuk seorang sahabat yang hari ini akan mengucapkan kaul kekal sebagai seorang biarawati … dulu kita pernah punya mimpi tentang biara putih di kaki bukit … hari ini, biara putih itu bukan lagi impian bagimu … di sanalah kamu akan tinggal saat cintamu memadu Kasih-Nya … Proficiat!  I am very happy for you, Sister)

* 15 Agustus - Hari Pesta Bunda Maria Diangkat ke Surga  

get marry or stay single (obrolan with my mom)

Sunday, August 13th, 2006

Deringan handphone menghentak gw dari tidur nyenyak. Aduh, kenapa sih volumenya gede banget? Sialan, ternyata itu karena handphonenya masih gw gantungin di leher waktu tidur. Setengah merem, gw liat id penelponnya. Halah, private number! Gw paling sebel menjawab telepon yang gak jelas dari siapa. Tapi suara deringannya yang kenceng membuat adik gw bangun, "dijawab aja kenapa sih? kalo gak buang aja!" trus dia balik badan sambil nutupin kepala pake bantal. Terpaksa deh gw jawab, "hallooo…?!"

Sebuah suara cempreng yang sangat akrab tapi dah lama gak gw dengar berteriak2 di ujung sana, "Tessaaaa…, elo udah bangun ya. Sorry ya bangunin elo malam2 begini." ( hah, emangnya ini jam brapa seh? gw lirik jam weker di atas meja, 3.40 , huaaa…. ini mah udah bukan malam lagi itungannya)

" Rabbit, bego loeeee…! Cepet bilang ada apa, kalo gak gw laporin polisi !!"

" Makasih tes. Gw cuman mo kasih tau, gw memutuskan untuk gak jadi merit."

Gubrak! gw yang tadi setengah merem, sekarang jadi melotot sambil melongo (ekspresi ikan mas koki istilahnya, hihi..).

"Ya ampyun, kawinan lo kan tinggal sebulan lagi ya?!"

" Fitnah loe! Yang bener tinggal 3 minggu lagi, 3 September. Dan gw benci karna elo bilang gak bisa dateng, jadi gw batalin deh!"

" Hah!!Kapan gw bilang gak bisa dateng? (suara gw setengah teriak neh) Kan gw dah bersedia untuk jadi penerima tamu, walopun gw tau bakal sengsara di lilit kebaya!!"

"Oke deh, kalo gitu alasannya bukan karna elo gak bisa dateng. Aduh, gw bingung nih, gak tau deh!"

" Kalo gak tau, kenapa elo gak telepon 108 aja?"

Tanpa gw duga, tiba-tiba suara si rabbit berubah jadi isakan. Ya ampyun, gw salah ngomong apa ya?

"Tes, gw udah mutusin untuk gak jadi kawin. Setelah dipikir2 lagi, bukan ini yang bener2 gw mau. Lagian emang ini bukan keputusan gw kan? ……… ," si rabbit masih ngomong panjang lebar, gak semuanya bisa gw dengar dengan jelas karena dia ngomong sambil terisak2 dan gw juga masih setengah sadar. Karena bingung mo ngomong apa, jadi gw memilih diem mendengarkan semua curhatnya. Betewe, si rabbit (maap, ini cuma nama samaran) adalah temen karib gw sejak SMA dan kita masih terpaksa jadi sahabat sampe sekarang, hehe..

Udah hampir jam 6 pagi ketika si rabbit mengakhiri curhatnya (huaaaa… gak terasa hampir 2 jam). Gw pengen tidur lagi, tapi percakapan dengan si rabbit bener2 bikin nafsu tidur gw ilang. Dan gw masih terus mikirin tentang hal ini sepanjang hari. Kemungkinan terburuk apa yang bakal terjadi kalau seorang calon pengantin membatalkan pernikahannya 3 minggu sebelum ‘the wedding day’ ? Undangan udah disebar, gedung udah di pesan, upacara di gereja udah oke, panitia udah kerja keras untuk membuat perayaan yang meriah. Apakah orang tua dan keluarga besarnya akan mengerti? Apakah calon suaminya dan keluarga besarnya juga bakal mengerti? Gw gak yakin mereka bisa mengerti. Astaga, ini bener2 akan jadi masalah besar.

Well, gw berusaha untuk memahami situasi si rabbit. Berada dalam tekanan terkadang membuat kita jadi gak bisa memutuskan sesuatu dengan jernih, dan membiarkan orang lain yang memutuskan. Tapi di tengah perjalanan tiba-tiba kita tersadar telah membuat sebuah kesalahan dengan membiarkan orang lain menentukan kehidupan kita.

Pernikahan selalu dianggap sebagai sebuah peristiwa besar dalam kehidupan manusia. Tapi gw jadi bertanya-tanya, apakah manusia harus menikah?

"Pernikahan itu sebuah pilihan," itu kata-kata my mom waktu gw ajak diskusi tentang masalah ini. Aha, ketika banyak orang tua yang menganggap pernikahan adalah sebuah keharusan (atw mungin sebagai tugas untuk melanjutkan kehidupan) dan jadi gelisah kalau anaknya, terutama anak gadis, belum menikah di atas usia 25 tahun (bahkan lebih heboh dari anak2nya); my parents menanggapi nya dengan santai (hm, gw lebih suka pakai istilah "tenang dan bijak", hehe..).

Kalau seseorang ingin membentuk keluarga dan mempunyai anak2, maka pernikahanlah jalannya. My mom tetap gak setuju dengan hidup bersama tanpa menikah. Karena menurut my mom, "persatuan" perempuan dan laki-laki itu seharusnya disucikan di hadapan Tuhan dalam sebuah ikatan pernikahan, apapun agamanya.

My mom juga bilang, Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasangan; maksudnya ada lelaki, ada perempuan; ada jantan, ada betina; tapi gak selalu harus dipasang-pasangkan. Bersama dengan akal budi, Tuhan juga memberikan manusia kehendak bebas untuk memilih. Tapi, kehendak bebas itu harus sungguh2 dipertanggungjawabkan. Kalau sudah menentukan pilihan, harus berani juga untuk menerima segala konsekuensi dari pilihan itu.

Bagaimana dengan beberapa orang yang memilih hidup selibat (tidak menikah) untuk melayani orang lain, misalnya pastor, biarawati, rahib, atau biksu/ni. Kata my mom, mungkin untuk mereka2 itu Tuhan memang gak membuatkan pasangannya, hahaha….

Nah, saatnya untuk pertanyaan pamungkas buat my mom, "Mama lebih suka anak Mama menikah atau tetap single ?" (hm, sebenarnya ini bukan pertama kali gw ajuin pertanyaan ini, tapi tetap aja gw selalu pengen penegasan, hehehe…). My mom tersenyum sambil ngedipin mata (ah, dia tau), "Pilih yang terbaik buat kamu. Mama percaya!"

Huaaaa…. I gave her a hug and kiss … Thank you Mom, that’s all I want to hear, hehehe…

(for my dear rabbit, I support you for whatever you choose, and please be wise with your choice)

libur tlah tiba…. time with my parent

Thursday, August 10th, 2006

Huaaa… akhirnya, setelah 7 bulan diforsir untuk kerja dan keluyuran ke berbagai daerah, gw dapet cuti 5 hari kerja ditambah bonus 2 hari weekend (gak cukup sih, tapi lumayan :-D)  Liburan ini emang udah gw tunggu-tunggu, karena gw merasa kesehatan fisik dan mental gw udah mulai menurun, hehehe…

Gw tuh orangnya gampang bosan kalo gak ada yang bisa dikerjain (tapi kalo kebanyakan kerjaan juga be-te!), jadi untuk mengisi waktu selama liburan gw dah nyiapin 7 novel baru (Jhon Grisham, Pearl S Buck, Paulo Cuelho, Harlequin, Chicklit) ditambah Harry Potter 6, buat jaga-jaga kalau 7 novel gak cukup untuk seminggu (dan ternyata emang gak cukup, huaa..). Ditambah berkantong2 cemilan yang akan bikin berat badan gw bertambah 2 kilo dalam seminggu (huh, gak peduli deh!!)

Enaknya ‘liburan’ itu teman, kita bisa bangun siang karena gak harus buru2 ke kantor; gak perlu rebutan kamar mandi dan bisa nongkrong berlama2 sampe pintunya digedor2, hihihi… gak harus minum susu karena kalo gw bangun siang susunya udah diminum my brother; gak perlu sarapan pagi karena biasanya sejam setelah gw bangun makan siang udah siap;  bisa duduk tenang untuk creambath dan dipijat; bisa baca buku sampe lewat tengah malam dan gak ada yang iseng matiin lampu kamar gw dari luar (aneh deh, lampu kamar kok letaknya di luar!) 

Tapi satu hal lain yang paling menyenangkan adalah, gw jadi punya cukup banyak waktu with my parent. Selama ini, karena gw lebih banyak berada di luar rumah untuk urusan kerjaan, gw cuma punya waktu terbatas untuk mereka. Kebetulan pas gw libur dan benar2 santai, gw jadi bisa nemenin bokap ngobrol sambil nonton tipi atau diskusiin buku (bokap juga suka sama novelnya Jhon Grisham, jadi kita sering rebutan) dan bantuin nyokap masak, nyuci piring, sampe ngisi teka-teki silang, hehe..   

Gw senang selama seminggu ini ada cukup banyak waktu yang gw habiskan bersama ortu gw … dan dari obrolan santai sampai diskusi serius bersama mereka, gw banyak dapat insight yang bener-bener bisa me’re-charge’ emotional spirit gw.

Thanks Mom and Dad.